OLEH : ACEHKITA.COM
Baca Juga: Lingga, Dinasti yang Terlupakan [1]
ANTARA KARO, Islam, dan Gayo Gayo,
terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara hingga ke tenggara sepanjang bukit barisan, di bagian ujung pulau Sumatera. Selain itu, Gayo berbatasan langsung dengan daerah Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur, dan Sumatera Utara. Hal itu, memungkinkan banyak Suku Gayo, yang bertebaran di beberapa wilayah, termasuk di Karo, Sumatera Utara.
terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara hingga ke tenggara sepanjang bukit barisan, di bagian ujung pulau Sumatera. Selain itu, Gayo berbatasan langsung dengan daerah Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur, dan Sumatera Utara. Hal itu, memungkinkan banyak Suku Gayo, yang bertebaran di beberapa wilayah, termasuk di Karo, Sumatera Utara.
Dalam bukunya yang berjudul Gajah Putih, M. Junus Djamil
menuliskan, Kerajaan Lingga (Linge – dalam bahasa Gayo) didirikan oleh
orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan
Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak, sekitar abad ke-XI.
Raja Lingga pertama merupakan keturunan langsung dari suku Batak. Ia
mempunyai enam orang anak, yang salah seorang bernama Sebayak Lingga.
Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah leluhur tepatnya di Karo dan
membuka negeri di sana. Dia dikenal dengan Raja Lingga Sebayak. Konon,
dia lah yang menjadi raja di sana.
Beberapa anak Raja Lingga lain juga menjadi raja di wilayah
kekuasaannya. Anak pertama yang perempuan bernama Empu Beru, atau Datu
Beru. Sibayak Lingga adalah anak ke-II. Sedangkan putra ke-III bernama
Meurah Johan. Ia mengembara ke Aceh Besar, dan mendirikan kerajaannya
yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri,
dengan Kesultanan Lamuri atau Lambri.
Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan
Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin
orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Lingga, anak bungsu Raja Lingga tinggal di Linge. Meurah
Lingga menjadi penerus turun-temurun kerarajaan Linge di Gayo. Meurah
Lingga sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di
daerah Linge. Sampai sekarang, makam Meurah Lingga masih terpelihara dan
dihormati oleh penduduk setempat.
Hubungannya tidak sampai di situ saja. Seperti diceritakan Salman
Yoga S, seorang budayawan Gayo, sekitar beberapa puluh tahun silam,
beberapa pemuda Karo kembali berkunjung ke tanah leluhur, Dataran Tinggi
Gayo, Aceh Tengah. Tujuan mereka, mencari sanak keturunannya, dari
Sibayak Lingga. Layaknya Suku Batak yang dikenal keras, “Mereka datang
dengan pendekatan pemuda, yaitu judi,” kata Salman Yoga.
Syahdan, orang Karo kalah, sehingga terjadi perkelahian yang memakan
korban dari Suku Karo. Mengetahui kalah jumlah, pimpinan kelompok
tersebut memilih kabur, hengkang ke kampung halaman, membawa dendam.
Jeda hari terus berganti. Pemuda Karo kembali, dengan mengajak serta
pasukan yang berjumlah 27 orang. Mereka ingin menuntut balas. “Dalam
adat Batak, darah dibayar darah, nyawa pun harus dibayar nyawa.”
Dosen Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry ini
menjelaskan, tak mudah Batak Karo masuk ke lingkungan Suku Gayo. “Mereka
harus mencari keturunannya yang beragama islam.” Akhir dari pencarian,
bertemulah 27 pemuda tersebut dengan seorang keturunan Sebayak Lingga,
yang orang Islam taat, di Meulaboh, bernama Leube Kader.
Sebagai ulama, jelas saja Kader tak setuju dengan maksud mereka, yang
hendak membalas dendam. Tapi, Kader tetap membawa ke-27 pemuda
tersebut, untuk bermusyawarah, mencari jalan damai.
Jelas saja, awak Karo tak setuju. Setibanya di Gayo, dengan
tipu muslihat mereka, salah seorang dari membunuh ajudan Leube Kader.
Setelah membunuh, mereka mengadu domba Kader, ‘orang Gayo telah membunuh
ajudannya’. Karena itu, terjadilah perang.
Perang yang berkecamuk memakan korban yang tidak sedikit. Damai baru
tercapai, setelah suku asli Gayo membayar diyat, atas terbunuhnya satu
dari 27 Batak Karo, yang pertama ke Gayo tadi.
Diyat yang dibayarkan merupakan tanah, di wilayah Kerajaan Reje
Bukit, di Bebesan, Gayo. Sejak itu, ikatan persaudaraan mulai kembali
terjalin.
Seratus tahun kemudian, sekitar tahun 1962, Islam mulai kembali masuk
ke Karo, yang dibawa oleh cicit Sebayak Lingga, yang berasal dari Gayo,
Ilyas Lebee. “Dia mengislamkan orang Tanah Karo sampai sekitar tahun
1975. Jadi ada ikatan erat antara antara Gayo dan Karo,” kata Salman
Yoga, lagi. “Jejak itu masih ada. Ada Tokoh Gayo, Amandimot, yang
meninggal di sana, dan jasadnya tidak dibolehkan untuk dibawa pulang ke
Gayo. Jadi dia dikuburkan di Karo,” tambah Yoga.
Hamita Ginting ikut memperkuat perihal adanya ikatan persaudaraan
tersebut. Sebelum tahun 1970-an, kata Hamita, penduduk Karo mayoritas
memeluk Agama Islam. Hal itu, sebut ia, ada kaitan dengan Linge di Gayo,
Aceh. Tapi, sebaliknya kini hampir semua masyarakat Karo menganut agama
Kristen.
“Dulu 99 persen itu Islam. Di sini ada yang namanya Tengku Lobaho.
Ceritanya ada garis keturunan dengan Gayo. Kalau kemarau panjang, kami
ke tempat Tengku itu, kami suruhnya dia berdoa. Dan ajaibnya hujan
turun.”
Dari Desa Budaya Lingga, makam Lobaho hanya berjarak sekitar dua
kilometer. Masyarakat menyebut makam ‘keramat’ itu, Lobahon, atau
Gritten.
Dalam sebuah catatan lain disebutkan, Lingga adalah sebuah dinasti
yang besar pada masanya. Kerajaan ini, bahkan menguasai hingga ke Johor,
semenanjung Malaysia (masa Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb
Kesultanan Aceh, pada tahun 1533).
Keturunan Raja Lingga XIII juga meneruskan kekuasaan, dengan
mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang
kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit
wilayah Malaysia.
Sayang, hanya sedikit kiprah raja di Sebayak Lingga, Karo yang
terdokumentasi. Pada masa Belanda, hanya tercatat dua era Raja di Karo.
Yaitu; Sibayak Lingga, dan penerusnya Raja Kaloling Sibayak Lingga.
Tapi, Hamita menyebutkan, ia keturunan ke-VII Raja Ureung, Pimpinan Suku
Karo. Tidak jelas, Raja Ureung keturunan keberapa dari Kerajaan Karo,
di Lingga.
***
SORE yang mendung dan dingin di Budaya Lingga, Karo menusuk kulit. Dari
kejauhan, kabut tipis perlahan menutup keangkuhan Sinabung, gunung yang
menumpahkan laharnya beberapa waktu silam, menambah angker Gerga dan Waluh Jabu: sepasang bukti perdaban Lingga. [tamat][ACEHKITA.COM]
0 komentar:
Posting Komentar