OLEH :THEGLOBEJURNAL.COM
Sekitar Pukul 15.00 WIB, Minggu (12/2) massa Partai Aceh mulai
bubar meninggalkan Stadion Lampineung, H. Dimurthala menuju daerahnya
masing-masing. Tinggallah sampah bertebaran mengundang bau tak sedap
bagi penguna jalan di kawasan lapangan sepak bola itu. Namun secara
perlahan kotoran sampah-sampah itu mulai dibersihkan.
Bagi
Zackaria (51), pria asal Luengkubu, Padang Tiji, Kabupaten Pidie,
tumpukan sampah plastik merupakan rezeki berharga baginya. Ia sudah
biasa membersihkan sampah-sampah plastik dibantu istrinya, Aklimah (30)
asal Samalanga, Bireuen. Kedua pasangan "perjuangan hidup-mati" ini
langganan event besar, memilah-memilih sampai plastik setiap usai acara.
"Kerja kami sangat lelah, banting tulang,
tapi hasil yang kami peroleh sangat halal dan paling halal," kata
Zackaria yang tinggal berpindah-pindah di Banda Aceh. Ia mengaku di
Banda Aceh sejak pasca tsunami, awalnya tinggal di Ulee Kareung dan kini
tinggal di Lampaseh Aceh.
"Status rumah masih
sewa, kendatipun saya sangat berharap ada rumah sendiri di Banda Aceh,"
kata Zackaria saat ditemui The Globe Journal, Minggu (12/2) tadi sore.
Bang
Zack, begitu ia dipanggil, menggeluti pekerjaan ini sejak 1975 di
Batuphat, Aceh Utara yang kini telah masuk dalam wilayah Kota
Lhokseumawe.
Rata-rata penghasilan yang Ia
peroleh di Batuphat tidak banyak dan belum bisa mencukupi kebutuhannya,
yaitu Rp20.000 perhari. Namun sejak pasca tsunami Ia dan Aklimah
berpindah ke Banda Aceh dan saat itulah penghasilannya sedikit bertambah
menjadi rata-rata perhari Rp30-40 ribu.
"Kalau
bekerja keras setiap hari pasti ada menghasilkan uang, paling banyak
rezeki ketika ada acara besar, seperti acara demontrasi dan kegiatan
deklarasi kandidat Partai Aceh tadi," tuturnya.
Tapi
kalau acara datang Presiden RI ke Aceh tidak membuatnya istimewa karena
pengamanannya sangat ketat. Apalagi sampah-sampah plastiknya sudah
ditanggulangi oleh dinas terkait. Diakuinya hanya kegiatan orang-orang
Aceh-lah yang membantu penghasilan dia bertambah.
Hari
Minggu (12/2) Partai Aceh mengadakan deklarasi 15 kandidat Bupati dan
Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota ditambah satu pasangan
kandidat Gubernur dalam pesta demokrasi Pemilukada yang dijadwalkan 9
April 2012 mendatang.
Perut tak terasa lapar
lagi, Bang Zack merasa bangga melihat saudaranya dari gampong-gampong
datang ke Banda Aceh. Sarapan nasi bungkus yang disediakan panitia juga
dihiraukannya. "Kami cukup kenyang melihat saudara kami datang dari
pelosok ke Banda Aceh, itu saja sudah cukup," cetus sang istri tercinta,
Aklima.
"Saya sudah menunggu sejak pagi tadi, hingga saat ini ada 60 kilogram sampah plastik yang sudah dikumpulkan," kata bang Zack.
Sampah-sampah
ini dibawa ke rumahnya untuk disortir dan dijual seharga Rp3.000
perkilogramnya. "Dari sampah-sampah plastik kami mendapatkan Rp150.000
," pungkas Zackaria.
Penghasilan hari ini
adalah rahmat baginya, apalagi sampah-sampah plastik yang ditinggalkan
banyak yang masih utuh alias lengkap dengan tutupnya. Ia teringat hal
yang sama juga pernah diperolehnya saat usai demontrasi rakyat tolak
Independen di depan Kantor DPRA beberapa waktu yang lalu oleh massa
KMPA.
Namun untuk berjuang dan bertahan hidup kuncinya adalah kerja keras dan bersikap jujur.
"Pekerjaan
saya jelas adalah mengutip sampah plastik untuk dijual lagi, dan
pekerjaan ini untuk bertahan hidup keluarga saya, walaupun saya bersama
istri masih sangat tegar,"demikian Zackaria dan istrinya Aklima dalam
bahasa Aceh fasih.[THEGLOBEJURNAL.COM]
0 komentar:
Posting Komentar