-->
Senin, 27 Februari 2012 - 0 komentar

Janda Konflik Rosdiana : Disuruh Buka Rekening, Rumah Tidak Ada

OLEH: THEGLOBEJURNAL.COM

Matahari sudah mencapai ubun-ubun saat ratusan tapak kaki melangkah masuk ke Gedung Dewan perwakilan Rakyat (DPRA). Halaman gedung dewan semula kosong, langsung dipenuhi dengan ratusan masyarakat korban konflik. Ratusan orang terlihat duduk-duduk di bawah pohon untuk melepas lelah.

Puluhan plastik air mineral yang sudah kosong tergelatak begitu saja di halaman gedung wakil rakyat. Warga asal Aceh Tengah, Bener Meriah dan Pidie tersebut melepas lelah usai berjalan sejauh lima kilometer. Mereka melakukan longmarch dari kantor Aceh Judical Monitoring Institute (AJMI) yang terletak di Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar. Mereka adalah masyarakat yang menjadi korban semasa konflik Aceh yang dijanjikan mendapat bantuan rumah.

Panas matahari ternyata tidak menyurutkan semangat warga dari tiga kabupaten untuk bertemu dengan wakil rakyat yang telah mereka pilih.  Tuntutan mereka sederhana, rumah mereka segera dibangun.

“Rumah kami dibakar. Udah sering kami urus, tapi nggak dapat-dapat,” ujar Rosdiana pada The Globe Journal, Senin (20/2). Tidak hanya Rosdiana, puluhan wanita dan laki-laki yang datang ke tempat itu juga mengalami nasib yang sama. Rumah tempat mereka berteduh dari panas dan hujan, sampai saat ini belum dibangun oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA).

Ros, sapaan perempuan beranak tiga ini mengatakan bahwa rumahnya telah dibakar saat konflik Aceh tahun 2001. Bersama beberapa perempuan lain, Ros ingin menuntut janji BRA akan rumah yang dibangun untuk korban konflik. “Karna udah capek ngurus, udah sering masukin berkas jadi kami kemari. Masukin berkas udah sering kali kayaknya. Ada ke BRA ada yang lewat calo, disuruh buka buku rekening,  tapi nggak ada hasilnya,” keluhnya.

Pada The Globe Journal, warga Simpang Baleek ini mengungkapkan kesedihannya. Dia mengganggap BRA telah salah sasaran dalam hal membangun rumah untuk korban-korban konflik di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, dirinya merasa sangat bosan untuk mengurus surat rekomendasi serta mengetik proposal-proposal agar bisa mendapatkan rumah.  Sementara itu, ada banyak yang mendapatkan rumah bantuan, tidak tanggung-tanggung, ada tiga rumah yang didapat sekali bangun.

Namun, hingga mereka harus meninggalkan kampung halaman untuk datang ke gedung DPR Aceh di Banda Aceh.

“Kami maunya rumah kami dibangun. Seperti yang diorasikan bapak-bapak ini, di tangan calo itu, kami yang punya hak bukan dikasih untuk kami, tapi dikasihnya ke orang lain,” tuturnya.

“Kayak misalnya janda korban konflik mendapatkan dana pemberdayaan ekonomi, kakakpun belum dapat. Mungkin aja jalan untuk kami disini untuk ngomong ya kami minta, karena kami berhak seperti yang lain juga,” sambungnya.

Sambil menidurkan anaknya, Ros kembali mengenang saat Aceh masih dilanda konflik. Suaminya dituduh sebagai simpatisan Abdullah Syafi’i, diculik dari rumah. Beberapa hari kemudian, suaminya ditemukan menjadi mayat di sungai oleh masyarakat desa.  

“Sedih kali lah dek, apa salah suami kami. Suami kami masyarakat biasa, bukan GAM. Yang kami tau, suami kami masyarakat biasa. Yang kami tau dia pergi ke kebun. Nggak tau masalah politik,” ujarnya.

Hingga kini, perempuan berjilbab kuning kecoklatan itu menempati sebuah rumah kontrakan. Tiap tahunnya dia harus membayar seharga Rp 3,5 juta untuk tempatnya berlindung bersama anaknya. Rumahnya yang dulu, di Ateuh Singkih sudah dibakar oleh orang tak dikenal. Tempatnya bernaung tersebut telah menjadi puing dalam beberapa hari setelah suaminya  juga diculik dan dibunuh OTK. Rumah yang seharusnya dia dapatkan sampai saat ini masih berupa berkas-berkas yang akan diproses oleh BRA.

“Kami nggak perlu diproritaskan, tapi maunya kamipun dapat,” harapnya.

Sudah tiga hari, Ros dan kawan-kawannya bermalam di Banda Aceh. Mereka masih menunggu berkas-berkas untuk pembangunan rumah mereka diproses oleh BRA.  Saat terakhir kali dihubungi The Globe Journal,  Ros dan rombongannya bersiap-siap hendak kembali ke kampung halamannya. Dia merasa bersyukur dan lega bahwa permintaan mereka akhirnya ditanggapi oleh orang-orang penting di Aceh.

“Kami perempuan kalau udah ada rumah lebih enak kami usaha, walaupun jadi tukang cuci orang, yang penting kami punya rumah,” ungkapnya.[003][THEGLOBEJURNAL.COM]

0 komentar:

Posting Komentar